Aku suka membaca cerpen. Dan inilah cerpen yang paling bagus yang pernah aku baca.
GAUN BIRU WARISAN
oleh : Benny Ramdhani
Sebentar lagi ulang tahun Vina. Undangan sudah tersebar ke tangan teman-temannya, baik di sekolah maupun di rumah.
“Ma, baju untuk Vina pakai nanti kok, belum dibelikan juga?” tanya Vina sore itu. “Pestanya kan, tinggal 2 hari lagi.”
“Besok Oma akan datang membawakan gaun pesta untukmu,” jawab Mama sambil merapikan beberapa bingkisan untuk tamu pesta nanti.
“Kamu kan cucu perempuan Oma yang pertama. Jadi gaun itu memang sengaja disiapkan Oma untukmu.”
“Oooo, begitu,” Vina manggut-manggut.
Keesokan sorenya Oma datang seperti yang dijanjikan. Karena penasaran, Vina buru-buru membuka tas yang dibawa Oma. Vina mengeluarkan sebuah gaun pesta berwarna biru. Gaun yang sangat cantik. Namun, wajah Vina langsung kusut seketika.
“Oma, model gaunnya seperti sudah lama. Tidak seperti gaun pesta punya teman-teman,” komentar Vina.
Oma berusaha menahan kekecewaannya.
“Vina ingin pakai gaun pesta yang baru. Pokoknya Vina minta dibelikan sama Papa saja,” tukas Vina sambil menghampiri mama.
“Tapi Oma sudah menyiapkan gaun itu untukmu sejak...”
Vina menggeleng. Sifat keras kepalanya muncul. Ia kemudian berlari ke kamar.
“Vina tidak mau keluar kalau Papa belum membelikan gaun baru!” teriak Vina mengancam
Vina sungguh-sungguh dengan ancamannya. Ia tidak menggubris Mama yang terus mengetuk pintu kamar. Demikian juga suara Oma. Akhirnya Mama menelpon Papa agar membelikan Vina gaun pesta yang baru.
Sementara itu Vina memandang ke luar jendela. Ia melihat sesosok anak perempuan sebaya dengannya sedang berdiri di dekat pagar rumah. Rasanya Vina pernah melihat anak perempuan itu. Anak itu melambaikan tangan ke arah Vina. Meminta Vina menghampirinya. Ah, lewat jendela saja! Pikir Vina. Ia lalu membuka jendela kamar dan meloncat keluar.
“Hey namaku Tiara. Besok, kamu akan berulang tahun, ya?” sapa anak perempuan itu ketika Vina mendekatinya.
“Ya. Maaf kalau aku lupa mengundangmu. Rasa-rasanya aku pernah melihatmu, tapi aku lupa...”
“Tidak apa-apa. Mmm, boleh aku minta tolong padamu?” kata Tiara
“Apa?” Vina penasaran.
“Omamu punya gaun biru yang sangat indah. Aku ingin kamu memakainya besok. Tolonglah... Omamu akan menangis sedih dan kecewa jika kamu menolaknya...”
“Aku tidak suka karena modelnya terlalu kuno! Lagi pula Oma tidak pernah sedih kalau aku menolak permintaannya, kok...”
Raut muka Tiara berubah sedih. Matanya mulai membasah.
“Mengapa kamu sedih, Tiara?”
“Kasihan Omamu. Dulu ia punya seorang anak perempuan. Kakak ayahmu. Anak perempuan itu ingin sekali merayakan pesta ulang tahunnya.Karena itu Omamu membuat gaun biru itu untuknya. Tapi, sepulang sekolah menjelang pesta ulang tahun, anak itu tertabrak mobil hingga meninggal...”
Vina seperti mendengar sebuah dongeng. Hampir tidak bisa dopercaya. Tapi cara Tiara bercerita membuatnya tergugah.
“Maaf, aku harus pergi sekarang...”
“Tunggu!”
Suara mobil papa masuk ke garasi terdengar sampai ke kamar Vina. Vina tersentak kaget. Aih, rupanya ia bermimpi. Vina mengintip dari jendela kamar. Dilihatnya Papa membawa kantong plastik berwarna merah. Itu pasti bungkusan gaun pesta untuknya.
Tok... tok... tok! Pintu diketuk dari luar. Itu bunyi ketukan jari Papa.
“Vina, ayo keluar. Ini Papa bawakan gaun pesta yang baru untukmu...” kata Papa membujuk
Vina membuka pintu kamar. Papa, Mama, dan Oma langsung masuk sambil mengajak Vina duduk di sisi tempat tidur. Papa membuka akntong plastik yang dibawanya. Sebuah gaun pesta merah muda dengan model baru.
“Cobalah. Biar bisa ditukar lagi kalau tidak pas,” pinta Mama.
“Tidak perlu, Ma. Vina... akan memakai gaun biru dari Oma saja.”
Mama, Papa, dan Oma terkejut.
“Vina ingin memenuhi keinginan Oma. Vina juga ingin memenuhi permintaan teman baru Vina. Namanya... Tiara! Kami baru saja berkenalan dalam mimpi. Apakah Mama tahu, siapa Tiara itu?”
Oma mendekati Vina. Sesaat ia memandang Papa.
“Tiara adalah tantemu yang meninggal ketika ia masih seumurmu. Tiara adalah kakak papamu. Dia sangat cantik sepertimu,” jelas Oma dengan mata menerawang...
Vina tersentak. Ia langsung menghadap ke cermin.
Ah, ya, wajah Tiara tadi memang hampir mirip dengan bayangan di cermin itu. Pantas saja Vina seperti pernah mengenalnya...
“Maafkan Vina, Oma. Tadi Vina sudah membuat Oma kecewa,” ucap Vina sambil memeluk Oma.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar